Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum dikukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Jambi, Selasa (10/2/2026). (Foto : SDB/HumasUnja).

(SDB, Jambi) – Seorang alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Seribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Andiopenta Purba sukses meraih puncak gelar tertinggi akademis menjadi profesor di Universitas Jambi (Unja). Setelah mendapat gelar professor tersebut, Andiopenta Purba yang sudah cukup lama mengabdi sebagai dosen di Unja dikukuhkan menjadi Guru Besar Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP) Unja.

Pengukuhan Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MH sebagai Guru Besar Unja dilaksanakan pada Sidang Terbuka Senat Unja dalam rangka Pengukuhan Guru Besar Unja tahun 2026 di gedung Balairung Sari, Kampus Pinang Masak Unja, Mendalo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Selasa (10/2/2026). Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum dikukuhan menjadi guru besar bersama lima orang guru besar Unja lainnya. Pengukuhan guru besar Unja tersebut dilakukan Rektor Unja, Prof Dr Helmi, SH, MH.

Lima guru besar baru Unja yang dikukuhkan, masing-masing, Prof Dr Kuswanto, SPd, MSi, Prof Dr Ir Sri Arnita Abu Tani, MS, Prof Dr Ir Rahmi Dianita, SPt, MSc, IPM, Prof Dr Mursalin, STP, MSi dan Prof Dr Fitry Tafzi, STP, MSi. Satu lagi Guru Besar Unja yang semestinya turut dikukuhkan, yakni Prof Dr Drs Harizon, MSi. Namun guru besar tersebut meninggal 5 Januari 2026. Dokumen pengukuhan Guru Besar Unja, Prof Dr Drs Harizon, MSi diserahkan kepada keluarga (isteri dan anak) profesor tersebut. Sementara pada Senin (9/2/2026), Unja juga mengukuhkan enam guru besar baru.

Dihadapan Sidang Terbuka Senat Unja dan ratusan undangan, Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum yang merupakan alumni SMAN Seribudolok tahun 1985 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kedwibahasaan, Literasi, Mobilitas dan Adopsi Inovasi : Pengembangan Sumber Daya Manusia Berkualitas Berbasis Sosiolinguistik”.

Menurut Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum, kemampuan seseorang menguasai lebih dari satu bahasa (dwibahasa) memiliki peranana penting meningkatkan kecerdasan (ilmu pengetahuan) dan karier orang tersebut. Hal tersebut dibuktikan mantan Menteri Luar Negeri dan mantan Wakil Presiden Republik Indonesia di masa Orde Baru, H Adam Malik.

Dikatakan, H Adam Malik asal Kota Pematangsiantar, Sumut berhasil menjadi Menteri Luar Negeri dan tampil berbicara pada sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta akhirnya menjadi Wakil Presiden RI kendati jenjang pendidikannya tidak sampai perguruan tinggi.

“Prestasi tersebut diraih H Adam Malik karena selain menguasai bahasa Indonesia dan Batak, H Adam Malik juga menguasai bahasa Inggris, bahasa Jepang dan bahasa China. Hal ini membuktikan penguasaan dwibahasa (lebih dari satu bahasa) mampu mencetak seseorang menjadi sumber daya manusia berkualitas,”katanya.

Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum lebih lanjut mengatakan, selain menguasai minimal dua bahasa, seseorang juga akan bisa memiliki kualitas kecerdasan, pengetahuan dan kahlian yang mumpuni jika memiliki literasi digital (menguasai teknologi dan digitalisasi) serta memiliki mobilitas (perjalanan ke luar daerah dan luar negeri).

Di zaman globalisasi berbasis digitalisasi ini, lanjut Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum, semua bidang atau ilmu pengetahuan sudah terakit dengan digitalisasi. Karena itu setiap orang, apa pun bidang pengetahuan dan keahliannya, harus menguasai digitalisasi. Dengan demikian orang tersebut akan memiliki kualitas pengetahuan dan kemampuan yang tinggi di bidangnya.

Menurut Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum, orang yang memiliki mobilitas yang tinggi atau sering melakukan perjalanan ke luar daerah, terutama ke luar negeri, juga berpotesi menjadi orang yang cerdas, berpengatuah dan keterampilan yang baik. Mobilitas seseorang ke luar daerahnya, apalagi ke luar  negeri akan memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan orang yang mobilitasnya rendah.

Prof Dr Drs Andiopenta Purba, MHum mengajak warga masyarakat Indonesia memberikan pembelajaran kedwibahasaan (beragam bahasa) kepada anak-anak sejak dini agar anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang cerdas. Kemudian generasi muda Indonesia juga harus terus berupaya meningkatkan kemampuan atau pengasaan digitalisasi agar memiliki pengetahuan yang luas dan mampu bersaing di tingkat global.

“Masyarakat Indonesia perlu menghidupkan semangat kedwibahasaan guna meningkatkan kecerdasan atau kualitas sumber daya manusia. Melalui kecerdasan tersebut, generasi muda Indonesia memiliki bekal atau kesiapan menghadapi persaingan global,”katanya.

Reputasi 

Sementara itu, Rektor Unja, Prof Dr Helmi, SH, MH pada kesempatan tersebut menyambut gembira pengukuhan enam Guru Besar Unja. Setelah enam orang guru besar baru tersebut dikukuhkan, Unja kini memiliki 96 guru besar dari bebagai fakultas. Namun Prof Dr Helmi, SH, MH merasa sedih dan prihatin, sebab satu orang Guru Besar Unja yang seharusnya turut dikukuhkan telah meninggal dunia awal Januari lalu.

Prof Dr Helmi, SH, MH mengharapkan keenam Guru Besar Unja yang baru dikukuhkan benar-benar memanfaatkan karya ilmiah, buah pikiran dan pengabdian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keenam guru besar tersebut juga diharapkan mampu mengangkat reputasi Unja di dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Prof Dr Helmi, SH, MH mengharapkan, pengukuhan enam guru besar Unja tersebut mampu menginspirasi para akademisi yang lain untuk segara menjadi guru besar. Saat ini Unja memiliki 240 orang Lektor Kepala. Hal tersebut berarti Unja masih memiliki potensi menambah guru besar. Ratusan lektor tersebut juga kini berjuang menjadi guru besar.

“Perjuangan para akademisi Unja meraih gelar professor dan menjadi guru besar kita harapkan juga tercapai jika mereka berjuang dengan kemauan keras,”katanya.

Disebutkan, pencapaian guru besar tersebut bukan hanya pencapaian pribadi sebagai dosen, tetapi juga menjadi capaian penting univesitas. Penambahan guru besar tersebut tentunya akan membuat keberadaan Unja semakin diakui masyarakat. Sebab, jabatan guru besar menujukkan pengakuan akan kompetensi di bidang akademik.

“Semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak positif pada penilaian terhadap Unja,”katanya.

Prof Dr Helmi, SH, MH menegaskan, menjadi guru besar memikul tanggung jawab akademik yang besar di bidang akademik maupun non akademik. Di bidang akadamik, seorang guru besar harus mampu mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi ilmu yang bermanfaat. Guru besar wajib juga menemukan inovasi-inovasi baru agar ilmu pengetahuan selalu adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Sedangkan secara non akademik, guru besar harus mampu menjadi role model (contoh) bagi masyarakat. Sosok guru besar harus bisa menjadi teladan tentang kebaikan, integritas dan moralitas,”ujarnya.

Sementara itu, Rapat Terbuka Senat Unja dalam rangka Pengukuhan Guru Besar Unja tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Keenam Guru Besar Unja yang baru didampingi keluarga (isteri dan anak-anak) serta membawa keluarga besar masing-masing. Seusai pengukuhan, seluruh anggota senat Unja dan para undangan memberikan ucapan selamat kepada keenam guru besar dan dilanjutkan santap siang bersama. (SDB/Rades).