(Sidea, Jakarta) – Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada pejuang bangsa asal Simalungun, (Alm) Tuan Rondahaim Saragih Garingging diharapkan menjadi tonggak atau momentum penting memacu jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan seluruh elemen masyarakat Simalungun mempercepat pembangunan Simalungun dari keteringgalan.
Selama ini, pembangunan di Simalungun terabaikan, termasuk pembangunan infrastruktur jalan akibat kurangnya perhatian Pemerintah Pusat dan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Pasca ditetapkannya Tuan Rondahaim Saragih menjadi Pahlawan Nasional, perhatian Pemerintah Pusat dan Provinsi Sumut terhadap pembangunan Simalungun pun diharapkan semakin meningkat.
Demikian salah satu pemikiran penting yang bisa dipetik atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada pejuang bangsa Asal Pamatangraya, Kabupaten Simalungun, Sumut, Tuan Rondahaio Saragih Garingging (1828 – 1891). Tuan Rondahaim Saragih mendapat anugerah Pahlawan Nasional dari Pemerintah RI pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025, di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Penghargaan itu diserahkan Presiden Prabowo Subianto kepada tokoh dan cendekiawan Simalungun, Prof Dr Bungaran Saragih, MSi dan keturunan Tuan Rondahaim Saragih, yakni cicit Tuan Rondahaim Saragih Garingging, Lukman Rudi Saragih Garingging (56).
Penghargaan gelar Pahlawan Nasional tersebut diberikan kepada almarhum (Alm) Tuan Rondahaim Saragih Garingging berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 tanggal 6 November 2025. Tuan Rondahaim Saragih Garingging diberi gelar Pahlawan di Bidang Perjuangan Bersenjata.
Tuan Ronahaim Saragih Garingging dikenal sebagai “Napoleon dari Batak”. Tuan Rondahaim Saragih Garingging mencatatkan riwayat perjuangan menonjol melawan kolonialisme Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tuan Rondahaim Saragih Garingging memimpin pasukan di Pamatangraya mengusir pasukan Belanda.
Menurut Lukman Rudi Saragih Garingging, Tuan Rondahaim Saragih Garingging merupakan raja ke-14 di Kerajaan Raya. Kerajaan Raya kini menjadi wilayah Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. Tuan Rondahaim merupakan seorang sosok raja raja yang gagah berani, sakti dan memiliki strategi perang yang luar biasa menentang penjajahan Belanda.
Tuan Rondahaim Saragih ketika melawan pasukan Belanda memperkuat pertahanan dengan membentuk pasukan gabungan dari berbagai kerajaan kecil di Simalungun, yakni Raja Siantar, Raja Bandar, Raja Sidamanik, Raja Tanah Jawa, Raja Pane, Raja Raya, Raja Purba, Raja Silimakuta dan Raja Dolok Silou. Melalui sistem perang gerilya, pasukan gabungan tersebut membuat pasukan Belanda tidak berani measuki wilayah Simalungun ketika Tuan Rondahaim Saragih masih hidup.
Disebutkan, Tuan Rondahaim Saragih pernah pernah menerima tanda kehormatan Bintang Jasa sebagai Tokoh Provinsi Sumut dari Presiden BJ Habibie berdasarkan Keppres RI No.077/TK/Tahun 1999 tertanggal 13 Agustus 1999.
Tokoh Nasional Lain
Sementara itu pada jamuan kenegaraan di Istana Negara, Jakarta tersbeut, Presiden Prabowo Subianto juga menyerahkan penghargaan gelar Pahlawan Nasional Sembilan kepada para pejuang/pemimpin/tokoh nasional yang sudah banyak berjuang bangsa Indonesia.
Para pejuang/pemimpin/tokoh bangsa yang meraih gelar Pahlawan Nasional tersebut, yakni mantan Presiden RI, Almarhum (Alm) KH Abdurrahman Wahid. Tokoh Provinsi Jawa Timur tersebut mendapatkan gekar Pahlawan di Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi dan pluralisme di Indonesia.
Kemudian mantan Presiden Indonesia selama 32 tahun, Alm Jenderal Besar TNI H M Soeharto yang dikenal sebagai tokoh dari Provinsi Jawa Tengah dan Pahlawan perjuangan. Presiden II RI tersebut dikenal sebagai Bapak Pembangunan berkat program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang membawa Indonesia mencapai kemajuan signigfikan. Termasuk swasemabada beras, menekan laju pertumbuhan penduduk dan pengentasan kemiskinan hingga mendapatkan pengakuan Internasional dan Lembaga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tokoh nasional lain yang mendapat gelar Pahlawan Nasional, yakni Almh Marsinah, tokoh dari Provinsi Jawa Timur, Pahlawan di bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan. Marsinah merupakan simbol keberanian moral dan perjuangan hak asasi manusia dari kalangan rakyat biasa.
Kemudian Alm Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja, tokoh dari Provinsi Jawa Barat, Pahlawan di bidang Perjuangan Hukum dan Politik. Mochtar Kusumaatmadja merupakan penggagas konsep negara kepulauan yang digunakan oleh Djuanda Kartawidjaya dalam mendeklarasikan Djuanda tahun 1953.
Selain itu, Almh Hajjah Rahmah El Yunusiyyah, tokoh dari Provinsi Sumatera Barat, yakni Pahlawan di bidang Bidang Perjuangan Pendidikan Islam. Rahmah El Yunusiyyah merupakan seorang ulama, pendidik dan pejuang kemerdekaan memiliki dedikasi memelopori pendidikan perempuan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.
Selanjutnya, Alm Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, tokoh dari Provinsi Jawa Tengah, yaitu Pahlawan di Bidang Perjuangan Bersenjata. Perjuangan militer Sarwo Edhie dimulai sebagai komandan kompi dalam TKR, selama periode Perang Kemerdekaan (1945-1949). Sarwo Edhie memimpin pasukannya dalam berbagai pertempuran.
Kemudian, Alm Sultan Muhammad Salahuddin, tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, yakni Pahlawan di Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi. Karyanya meliputi pembangunan Istana Bima, sekolah-sekolah agama dan umum, masjid besar, Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, kitab Nurul Mubin dan serta berbagai infrastruktur.
Selain itu, Alm Syaikhona Muhammad Kholil, tokoh dari Provinsi Jawa Timur, yakni Pahlawan di Bidang Perjuangan Pendidikan Islam. Pemikirannya mengenai penguatan pendidikan Islam berbasis pesantren serta gagasan “Hubbul Wathan Minal Iman” (cinta tanah air sebagai bagian dari iman) menjadi fondasi ideologis yang menggerakkan perjuangan para santri dalam melawan kolonialisme secara fisik dan kultural.
Selanjutnya, Alm Zainal Abidin Syah, tokoh dari Provinsi Maluku Utara, yakni Pahlawan di Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi. Zainal Abidin Syah memiliki peran penting dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua Barat, agar tetap menjadi bagian dari NKRI. (Sidea/Rades/Setpres).

Tidak ada komentar
Posting Komentar