Ruas jalan pesisir Danau Toba yang selalu tergenang air di kala hujan, Dusun Hutaimbaru, Desa Ujungmariah, Kecamatan Pamatangsilimahuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Gambar diambil baru-baru ini. (Foto : Matra/Radesman Saragih).

(Matra, Simalungun) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan DPRD Kabupaten Simalungun diminta jangan lagi tutup mata terhadap kondisi parahnya kerusakan jalan pesisir Danau Toba di Desa (Nagori) Ujungmariah, Kecamatan Pamatangsilimahuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Sekitar lima kilometer ruas jalan dari Desun Hutaimbaru, Desa Ujungmariah hingga ke Desa Bage kini rusak berat dan nyaris tidak bisa dilalui kendaraan. Sebagian besar ruas jalan tersebut tinggal batu-batu besar berserakan di jalan. Kemudian tanah di badan jalan tergerus aliran air got (selokan), sehingga badan jalan tergenang air. Sebagian ruas jalan tertimbun material batu besar akibat longsor tebing jalan.

Parahnya kerusakan jalan pesisir Danau Toba dari Desa Bage ke Dusun Hutaimbaru, Desa Ujungmariah hingga ke Desa Nagoripurba, Kecamatan Haranggaol Horisan membuat ratusan warga desa kesulitan akses ke pusat pasar dan pelayanan ke Desa Tongging, Merek Situnggaling dan Kabanjahe, Kabupaten Karo maupun ke Seribudolok, Kecamatan Silimakuta, Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun hingga ke Kota Pematangsiantar.

Kerusakan jalan pesisir Danau Toba dari Nagoripurba – Hutaimbaru – Soping – Baluhut dan Bage bahkan membuat sekitar ribuan warga terancam terisolir. Masalahnya ruas jalan rusak sulit dilalui kendaraan. Baik kendaraan roda dua dan roda empat. Kemudian, armada angkutan penumpang ke desa-desa pesisir Danau Toba tersebut sulit. Sementara kapal motor dan perahu bermotor (bermesin tempel) yang selama ini menjadi andalan transportasi warga desa pesisir Danu Toba kini sudah langka.

Warga desa pesisir Danau Toba di Kecamatan Pamatangsilimahuta meninggalkan transportasi air menyusul adannya transportasi darat. Kondisi itu membuat pengusaha angkutan air atau danau menghentikan usahanya akibat sepinya penumpang. Namun transportasi darat ternyata tidak lancar akibat kerusakan jalan yang sangat parah.

“Warga kampung ini sekarang bingung dan resah terkait akses ke luar desa. Moda angkutan aiar nyaris hilang. Kemudian angkutan darat sangat terbatas dan jalan rusak berat. Warga desa Pamatangsilimahuta setiap minggu hanya mengandalkan angkutan barang jenis L – 300 untuk berbelanja dan menjual hasil pertanian ke puast pasar dan pelayanan kesehatan ke Seribudolok, Tongging, Merek Situnggaling dan Kabanjahe,”kata warga Dusun Hutaimbaru, Jhon Girsang kepada medialintassumatera.net di Hutaimbaru, baru-baru ini.

Jhon Girsang lebih prihatin lagi terhadap kerusakan jalan ke desa mereka, karena kerusakan jalan membuat warga desa sering kesulitan membawa warga desa yang sakit ke pusat pelayanan kesehatan di Merek Situnggaling dan Kabanjahe, Kabupaten Karo maupun ke Seribudolok, Simalungun dan Kota Pematangsiantar.

Menurut Jhon Girsang, kerusakan jalan ke Desa Ujungmariah, Pamatangsilimahuta sudah 25 tahun tidak pernah mendapat perbaikan. Selama kepemimpinan Bupati Simalungun dua periode (2010 – 2025/2015 – 2021), JR Saragih dan kepimpinan Bupati Simalungun periode 2021 – 2025, kerusakan jalan ke desa-desa sentra mangga tersebut tidak pernah tersentuh pembangunan.

Kondisinya saat ini, lanjut Jhon Girsang lebih sulit lagi menyusul meninggalnya Kepala Desa Ujungmariah, E Haloho akibat kecelakaan mobilnya terjun ke jurang dan masuk ke Danau Toba dalam perjalanan pulang dari Ibukota Kecamatan Silimakuta, Seribudolok ke Desa Ujungmariah, Rabu (31/7/2024).

Selama dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Ujungmariah satu tahun terakhir, perbaikan jalan jalan dilakukan, sehingga kerusakan jalan semakin parah. Sedangkan ketika dipimpin kepala desa yang lama, perbaikan jalan masih sering dilakukan melalui gotong – royong warga desa.

Jhon Girsang mengatakan, warga Desa Ujungmariah, khususnya di Dusun Hutaimbaru sangat mendampakan gerak cepat Pemkab Simalungun dan DPRD Simalungun memperbaiki kerusakan jalan ke desa pesisir Danau Toba tersebut.

“Kami mengharapkan Pemkab Simalungun di bawah pimpinan Bupati H Anton Achmad Saragih dan DPRD Kabupaten Simalungun segera memperbaiki kerusakan jalan ke Desa Ujungmariah, Kecamatan Silimakuta ini. Kerusakan jalan ini sudah terhadi 25 tahun. Bahkan jalan ke dusun ini tidak pernah diaspal. Kondisinya berbeda dengan jalan pesisir Danau Toba ari Desa Tingging ke Desa Sibolangit, Kabupaten Karo,”katanya.

Kondisi kerusakan ruas jalan pesisir Danau Toba di Desa Bage – Dusun Hutaimbaru, Desa Ujungmariah, Kecamatan Pamatangsilimahuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Gambar diambil baru-baru ini. (Foto : Matra/Radesman Saragih).

Sangat Prihatin

Sementara itu, warga Simalungun dari desa na ualuh (delapan penjuru mata angin) juga sangat memperihatinkan kerusakan jalan di Desa Ujungmariah, Simalungun. Kerusakan jalan yang sangat parah di bawah tebing perbukitan pesisir Danau Toba tidak hanya mengambat akses transportasi dari dank e desa, tetapi juga mengancam keselamatan pengendara.

Rayjon Saragih (45), warga Simalungun asal Pamatangraya yang kini tinggal di Kota Medan kepada medialintassumatera.net (Matra) di Dusun Hutaimbaru, baru-baru ini mengatakan, pihaknya prihatin melihat kondisi parahnya kerusakan jalan pesisir Danau Toba dari perbatasan Kabupaten Karo, yakni Sibolangit – Bage hingga Hutaimbaru, Kabupaten Simalungun.

Menurut Rayjon Saragih, jalan pesisir Danau Toba dari Bage ke Hutaimbaru sebenarnya tidak layak lagi dilalui kendaraan karena kerusakannya sangat parah. Sebagian besar jalan hanya batu dan sedikit pasir, kerikil dan tanah. Kemudian jalan berada pada daerah atau medan yang sangat curam dan rawan longsor.

Sebagian badan jalan, kata Rayjhon, bahkan tertimbun material batu besar dan tanah akibat longsor tebing jalan. Selain itu, sepanjang jalan juga tidak dilengkapi marka jalan dan tanda-tanda lalu lintas yang bisa memberikan peringatan kewaspadaan bagi pengendara.

“Saya tadi termasuk nekad membawa kendaraan melintasi jalan yang sangat rusak berat, rawan longsor tebing jalan dan berada di perbukitan pesisir Danau Toba,”katanya.

Ratusan warga Simalungun dari delapan penjuru mata angin juga merasakan keprihatinan yang dialami Rayjhon aragih tersebut. Mereka terpaksa melintasi jalan buruk dan berbahaya menuju Dusun Hutaimbaru untuk melayat dan mengikuti upacara adat sayur matua (meninggal usia lanjut) dan pemakaman jenazah tokoh masyarakat dan gereja, St Berlin Manihuruk (Tukang Gambar/TKG), Senin – Selasa (1 – 2/9/2025).

“Wah, ngeri sekali jalan ke Hutaimbaru dan desa sekitar sini. Sangat rawan dan berbahaya. Kerusakan jalan sangat parah. Semestinya waktu tempuh dari Tongging ke Hutaimbaru hanya 30 menit. Namun karena kerusakan jalan ini, waktu tempuh lebih satu jam. Apalagi kalau hujan, jalan ini tentu sulit dilalui dan rawan longsor,”kata Randa Damanik, warga Kota Pematangsiantar dan Wendy Purba, warga Simalungun, Serdangbedagai yang turut menghadiri upacara adat pelepasan jenazah St Berlin Manihuruk di Hutaimbaru, Selasa (2/9/2025).

Warga Simalungun dari delapan penjuru mata angin tersebut mengharapkan Pemkab Simalungun di bawah kepimpinan Bupati Antin Achmad Saragih dan DPRD Kabupaten Simalungun di bawa kepemimpinan Sigiarto segera turun ke Desa Ujungmariah melihat kondisi kerusakan jalan tersebut dan mendengarkan keluhan warga masyarakat setempat.

Saat ini puluhan orang warga Hutaimbaru dan Soping (Desa Ujungmariah) dan warga Nagoripurba (Kecamatan Haranggaol – Horisan) berusia lanjut. Jika mereka sayur matua (meninggal), ratusan keluarga dari berbagai penjuru akan datang melayat. Mereka akan kembali dihadang jalan rusak jika tidak segera dilakukan perbaikan kerusakan jalan Bage – Soping – Hutaimbaru – Nagoripurba secara tuntas.

“Kalau bisa kerusakan jalan ini segera diperbaikilah agar akses ke Desa Ujungmariah segera diperbaiki. Kami melihat jalan dari Tongging ke Sibolangit, Kabupaten Karo bisa bagus, ini kok jalan dari Bage – Hutaimbaru yang hanya lima kilometer tidak bisa dibagusin. Kasihan warga desa Ujungmariah ini. Ada warga yang meninggal pun, keluarga yang datang dari jauh sulit datang akibat kerusakan jalan ini,”kata Randa Damanik. (Matra/Radesman Saragih). (Sumber: medialintassumatera.net)