Unjuk rasa ribuan warga menolak penggusuran dari kawasan TNTN Pelalawan, Riau di kantor Gubernur Riau, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, baru-baru ini. (Foto : MediaCenterRiau).

(SimalungunDearBarita.Com, Riau) – Nasib buruk dialami ratusan warga asal Simalungun dan Karo, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyusul penertiban kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau dari usaha perkebunan kelapa sawit. Penertiban sekaligus penyitaan ratusan ribu areal kebun sawit di kawasan TNTN Pelalawan yang dilakukan Pemerintah melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) saat ini menyebabkan warga Simalungun dan Karo yang sudah lama bermukim dan berkebun sawit di kawasan TNTN pun akhirnya tergusur.

Bersama sekitar 25.000 jiwa warga yang selama ini tinggal dan berusaha di enam desa, kawasan TNTN Pelalawan mereka harus pindah dari kawasan TNTN paling lambat 22 Agustus 2025. Mereka harus tempat permukiman dan usaha baru secara mandiri tanpa difasilitasi pemerintah.

Ironisnya, ratusan warga Karo yang harus minggat dari kawasan TNTN Pelalawan merupakan korban letusan (erupsi) Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumut beberapa tahun lalu. Mereka tidak bisa kembali ke kampung halaman karena desa dan lahan pertanian mereka di Karo sudah “terkubur” debu dan lahar akibat letusan Gunung Sinabung.

Menghadapi situasi kehidupan yang kritis, tertekan dan tidak jelas saat ini, warga Karo yang selama ini tinggal di Desa Kesuma, kawasan TNTN Kabupaten Pelalawan pun akhirnya mengirim surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Surat terbuka disebut disampaikan melalui video dan disiarkan di grup WhatsApp (WA) Kejaksaan Agung.

Beberapa tokoh masyarakat Karo Desa Kesuma, Kabupaten Pelalawan melalui surat terbuka tersebut  meminta Presiden Prabowo Subianto meninjau relokasi warga dari kawasan TNTN Pelalawan tersebut ditinjau ulang. Warga Karo korban erupsi Gunung Sinabung yang hijrah mencari penghidupan baru di Pelalawan Riau tidak pernah menggarap lahan TNTN dengan menyerobot.

“Kami membuka usaha pertanian dan bermukim di Desa Kesuma, Pelalawan atas seijin pemerintah setempat. Kami hanya melanjutkan kehidupan keluarga kami dengan niat baik. Kami korban bencana alam, erupsi Gunung Sinabung yang mencari tempat perlindungan dan melanjutkan kehidupan di Desa Kesuma, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau,”kata juru bicara warga Karo Desa Kesuma dalam video terbuka tersebut.

Warga Desa Kesuma, Pelalawan, Riau asal Kabupaten Karo korban penggusuran dari kawasan TNTN Pelalawan di Desa Kesuma, Pelalawan, Riau, Senin (14/7/2025) malam. (Foto : Ist).

Warga Simalungun

Sementara itu, ratusan warga asal daerah Simalungun, Sumut yang turut tergusur dari kawasan TNTN Pelalawan Riau juga dirundung keresahan. Mereka merasa bingung tidak tahu harus pindah kemana karena tanah di kampung halaman tidak ada lagi. Mereka selama ini berusaha di beberapa desa di Kabupaten Pelalawan untuk melanjutkan kehidupan keluarga.

Mereka tidak mengetahui lahan yang mereka garap dan tanah yang mereka tempati masuk kawasan TNTN. Sebab mereka membeli tanah tersebut setelah mendapatkan izin dari pemerintah setempat.

Di tengah kebingungan dan keresahan tersebut, ratusan warga asal Simalungun yang menjadi korban pembersihan TNTN tersebut minta dukungan dan topangan doa dari Pimpinan Sinode (Pusat) Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Pematangsiantar.

Warga Simalungun yang terdampak penggusuran dari TNTN Pelalawan tersebut berasal dari beberapa desa, yakni Desa Bukit Kusuma, Lubuk Kembang Bunga, Segati, Gondai, Air Hitam dan Bagan Limau.

Warga Simalungun tersebut tergabung dalam beberapa jemaat GKPS wilayah Kabupaten pelalawan. Di antaranya warga jemaat GKPS Pamatang Sako sebanyak 176 jiwa, GKPS Persiapan Kusuma Raya (58 jiwa) dan GKPS Persiapan Sei Dolig (48 jiwa).

Menanggpi kondisi warga jemaat GKPS di Pelalawan itu, Pimpinan Sinode GKPS, yakni Ephorus Pdt John Christian Saragih, STh, MSc dan Sekjen Pdt Dr Janhotner Saragih pun melayangkan surat pastoral (penggembalaan) kepada warga Simalungun di tiga jemaat GKPS yang tergusur di Pelalawan.

Pdt John Christian Saragih, STh, MSc melalui pesan pastoral tersbeut mengajak warga jemaat senantiasa berdoa dan berpengharapan di tengah gumul juang yang sedang mereka hadapi. Pimpinan Sinode GKPS melalui Departemen Pelayanan GKPS kini sedang membahas upaya yang bisa dilakukan GKPS membantu warga GKPS yang menjadi korban pembersihan kawasan TNTN Pelalawan tersebut.

“Di tengah kondisi duka warga jemaat yang harus kehilangan sejarah, harta benda dan persaudaraannya, kami sedang membahas upaya yang bisa dilakukan menyelamatkan mereka. Komunikasi antar lembaga pun kami bangun guna mengumpulkan data. Kami juga membangun jejaring untuk bergerak bersama, berjuang bagi warga demi keadilan dan kehidupan yang layak,”katanya. (SDB/Rades/HmsGKPS).